Sunday, July 23, 2017

Perawatan, Panen dan Pasca Panen Tanaman Tembakau di Desa Batang-batang Laok




Tembakau (Nicotiana tabacum) merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan yang biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuat rokok kretek. Tamanan ini menjadi salah satu potensi hasil pertanian yang berada di Desa Batang-batang Laok karena mayoritas masyarakatnya menanam tembakau disetiap ladang. Meskipun tanaman tembakau ini dikategorikan sebagai tanaman yang sulit dalam proses budidayanya tetapi masyarakat Desa Batang-batang Laok tidak enggan akan menanam tanaman temabakau. Di Desa Batang-batang Laok ini salah satu upaya dalam pemeliharaannya adalah penyiraman. Penyiraman dilakukan dengan cara dibuat lubang yang diberi alas terpal disekitar ladang yang telah ditanami tanaman tembakau tersebut. Jika seorang petani ingin menyiram tanaman tembakau maka lubang tersebut diisi air yang berasal dari sumur atau bor. Dalam penyiraman tembakau disiram satu persatu pada satu tanaman dengan menggunakan timba. Selain penyiraman perawatan dari tanaman tembakau ini yaitu pengendalian hama. Warga Desa Batang batang Laok dalam melakukan pengendalian hama dengan cara penyemprotan pestisida ataupun herbisida untuk membasmi gulma atau tanaman penganggu.

Seorang warga mengungkapkan bahwa  “tanaman ini dipanen secara bertahap, pemetikan daun sebanyak 5-8 kali tergantung kemasakan dan jumlah daun”. Kemasakan daun tanaman tembakau ditandai dengan warna daun sudah mulai hijau kekuningan dengan sebagian ujung dan tepi daun berwarna coklat,warna tangkai daun hijau kuning keputih-putihan, posisi daun/tulang daun mendatar, dan kadang-kadang pada lembaran daun ada bintik-bintik coklat sebagai penanda bahwa daun tersebut sudah siap dipanen. Daun yang dipetik terlebih dahulu daun yang terletak pada batang yang paling bawah.
Di Desa Batang-batang Laok waktu pemanenan tanaman tembakau dilakukan pada pagi hari setelah embun menguap sampai siang hari. Apabila waktu panen turun hujan, maka daun yang cukup matang segera dipetik atau ditunda 6-8 hari supaya kadar air yang berasal dari hujan tersebut hilang sehingga tidak menyebabkan kebusukan. Salah satu warga yang sedang melakukan penyiraman tembakau di ladang mengungkapkan “Dalam penentuan waktu panen sangat penting karena pemanenan yang dilakukan sebelum dan sesudah masak, hasilnya sama buruknya”. Jika daun tembakau dipetik  sebelum waktu panen hasilnya akan menurun karena setelah kering daun akan kisut dan tulang daunnya akan melengkung sehingga permukaan daunnya tidak rata.
Pasca panen tanaman tembakau di Desa Batang batang Laok langkah awal yang dilakukan yaitu sortasi daun-daun yang terlalu muda atau daun-daun yang terlalu tua dan ikut terpanen dipisahkan. Penyusunan daun dilakukan satu lapis agar tembakau tidak rusak, baik karena tertindih maupun oleh panas yang timbul akibat proses pemeraman itu sendiri terutama bila tumpukannya terlalu banyak. Pemeraman umumnya diberi alas tikar atau anyaman bambu. Pada kondisi kering, untuk menjaga agar tembakau tidak banyak kehilangan air selama proses pemeraman berlangsung maka pada bagian atas setiap susunan daun diberi penutup daun pisang. Sedangkan pada saat basah, daun tembakau diatur tidak terlalu rapat dan sebaiknya diletakkan di atas anyaman bambu sehingga terjadi aerasi untuk pengurangan kandungan air, agar daun tembakau tidak busuk.
Setelah pemeraman dilakukan pemisahan dan penghilangan ibu tulang daun. Kemudian daun digulung dengan posisi daun yang  berwarna lebih masak di luar dan daun yang lebih muda di dalam, selanjutnya diperam lagi selama 12 jam agar daun-daun yang lebih muda berubah menjadi lebih masak hingga siap untuk dirajang. Tiap gulungan terdiri dari 15-20 lembar daun atau sekitar 500-700 gram.
Perajangan sebaiknya dilakukan pada saat menjelang matahari terbit, sehingga setelah dirajang tembakau segera dapat dikeringkan. Bila terlalu lama tenggang waktu perajangan dengan pengeringan maka dapat menurunkan mutunya karena warna tembakau menjadi kusam. Waktu perajangan dengan penjemuran yaitu 3 jam, sehingga perajangan paling awal yang masih memberikan mutu paling baik yaitu pukul 03.00 Wib.
Pengeringan rajang tembakau dilakukan pada widig yang terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran 1 m X 2,5 m. Tembakau yang telah dirajang dicampur dengan hati-hati agar homogen, kemudian diatur lurus dengan ketebalan sekitar 1-2 cm searah panjang widig. Tembakau dalam widig diusahakan selalu tegak lurus dengan datangnya cahaya matahari dan tidak menyentuh tanah. Untuk mempercepat pengeringan dilakukan pembalikan satu kali pada sekitar pukul 11.00 Wib.
Pengemasan yang dilakukan oleh petani tembakau Desa Batang batang Laok dilakukan jika tembakau menjadi cukup lemas, kemudian digulung dengan hati-hati, dan dikemasan dengan tikar daun siwalan/lontar.  Pengemasan dilakukan terhadap tembakau dengan berat 40-50 kg yang terdiri dari mutu yang sama. Selanjutnya tembakau rajangan kering siap untuk dijual ke Pasar.

1 comment:

  1. terimakasih atas informasinya,, ijin share juga
    dan jangan lupa kunjungi link http://idblackwalet.com/

    ReplyDelete